k3mem

Menemukan Usahawan Sadar Sosial

In sastra on February 6, 2009 at 7:09 am

k3mem

Menemukan Usahawan Sadar Sosial

[Dalam rangka menyambut HUT RI Ke-63]

Proteksionisme ekonomi, subsidi, dan tunjangan
kesejahteraan dilembagakan oleh orang-orang yang
bermaksud baik untuk melunakkan sisi keras
kapitalisme.

Saya percaya pada tesis pokok kapitalisme: sistem
ekonomi itu harus kompetitif. Persaingan adalah
kekuatan penggerak seluruh inovasi, perubahan
teknologi, dan perbaikan manajemen.

Ciri utama lainnya dari kapitalisme adalah
maksimalisasi laba. Memaksimalkan laba memastikan
pemanfaatan optimal sumber-sumber daya yang langka.
Inilah ciri kapitalisme yang membentuk imajinasi kita
tentang seseorang yang tamak (bahkan haus darah) dalam
upayanya memaksimalkan laba. Kita telah menganggap
bahwa orang yang memaksimalkan laba tidak punya
kepentingan dalam pencapaian tujuan-tujuan sosial.
Kita kemudian merumuskan bahwa usahawan sejati adalah
mahluk istimewa dan langka sehingga masyarakat harus
merasa beruntung memilikinya. Kita merasa begitu
berterima kasih pada mereka sehingga kita memberi
mereka seluruh privilese yang bisa diberikan: kredit,
pengakuan sosial, penghapusan pajak, prioritas akses
terhadap tanah, proteksi pasar, dsb.

Saya ajukan dua perubahan terhadap ciri dasar
kapitalisme ini. Perubahan pertama terkait dengan
imajinasi berlebihan dari seorang pengusaha kapitalis.
Bagi saya, seorang pengusaha bukanlah orang yang punya
bakat khusus. Saya malah memandang sebaliknya. Saya
yakin semua manusia pengusaha potensial. Sebagian kita
memperoleh peluang untuk menunjukkan bakat ini, tetapi
kebanyakan kita tidak pernah memperoleh kesempatan
karena imajinasi yang terbentuk dalam benak kita bahwa
seorang pengusaha adalah seseorang dengan bakat luar
biasa yang berbeda dengan kita.

Jika kita semua mulai memandang setiap manusia, bahkan
pengemis di jalanan yang tak beralas kaki, sebagai
pengusaha potensial, maka kita bisa membangun sebuah
sistem ekonomi yang akan memungkinkan setiap laki-laki
dan perempuan menggali potensi ekonominya. Dinding
lapuk yang memisahkan antara pengusaha dan buruh akan
lenyap. Apakah seseorang ingin menjadi pengusaha atau
pegawai gajian akan semata-mata menjadi pilihan
perorangan.

Perubahan kedua terkait dengan bagaimana seorang
pengusaha membuat keputusan investasi. Teori ekonomi
menggambarkan pengusaha hanya sebagai orang yang
memaksimalkan laba. Malah di beberapa negara seperti
AS, UU korporasinya mewajibkan maksimalisasi laba.
Pemegang saham bisa menuntut seorang eksekutif atau
dewan direktur yang menggunakan dana perusahaan untuk
kepentingan masyarakat secara umum ketimbang untuk
maksimalisasi laba pemegang saham. Alhasil, dimensi
sosial dalam pemikiran pengusaha diabaikan sepenuhnya.
Bagi ilmu sosial dan masyarakat sendiri, ini bukanlah
langkah awal yang baik. Kalaupun pertimbangan sosial
berperan sangat kecil dalam keputusan investasi
seorang pengusaha, kita toh tetap harus membiarkan
pertimbangan sosial itu ikut bermain demi kemaslahatan
masyarakat secara keseluruhan. Pertimbangan sosial
seorang manusia adalah sifat-sifat yang bisa
ditanamkan dengan membangkitkan nilai-nilai sosial
yang tepat. Jika kita tidak menyisakan ruang bagi
mereka dalam kerangka teoretis kita, kita akan
mendorong manusia berperilaku tanpa menghargai
nilai-nilai sosial.

Pasar tentunya memerlukan aturan-aturan agar
pengalokasian sumber daya bisa efisien. Saya usulkan
kita mengganti prinsip sempit maksimalisasi laba
dengan prinsip yang lebih luas: seorang usahawan
memaksimalkan dua hal sekaligus: (a) laba dan (b)
manfaat sosial, dengan syarat bahwa laba tidak boleh
negatif (Sesungguhnya kedua komponen ini tidak boleh
negatif, tetapi saya membuat konseptualisasi ini agar
tetap sejalan dengan prinsip maksimalisasi laba yang
berlaku sekarang.)

Seluruh keputusan investasi bisa diambil dalam kisaran
pilihan-pilihan ini. Di satu ekstrem, si kapitalis
akan dipandu semata oleh motif mencari keuntungan. Di
ekstrem lainnya, seorang usahawan sosial akan tetap
bermain di pasar asalkan perusahaannya yang membawa
manfaat sosial bisa mencapai titik impas.

Dengan prinsip ini, seorang usahawan sosial bisa,
misalnya, menjalankan layanan kesehatan untuk kaum
miskin jika layak secara keuangan. Usaha-usaha lainnya
bisa meliputi layanan keuangan untuk kaum miskin,
jaringan toserba untuk kaum miskin, lembaga-lembaga
pendidikan, pusat-pusat pelatihan, usaha-usaha ventura
energi terbarukan, panti-panti jompo, lembaga-lembaga
untuk kaum cacat, usaha-usaha daur ulang, pemasaran
produk-produk yang dihasilkan kaum miskin, dsb.

Akankah usahawan-usahawan sadar-sosial ini jarang dan
sulit ditemukan? Saya kira tidak. Semakin kita cari
semakin banyak akan kita temui mereka dan semakin
mudah kita bikin seseorang untuk menjadi usahawan
sadar-sosial lainnya.

_______

Usahawan sejati adalah mahluk istimewa dan langka

sehingga masyarakat harus merasa beruntung
memilikinya.

Kita merasa begitu berterima kasih pada mereka
sehingga kita

memberi mereka seluruh privilese yang bisa diberikan:

kredit, pengakuan sosial, penghapusan pajak, prioritas
akses

terhadap tanah, proteksi pasar, dsb.

_______

Bagi saya, seorang pengusaha bukanlah orang yang punya
bakat khusus.

Saya malah memandang sebaliknya.

Saya yakin semua manusia pengusaha potensial.

Sebagian kita memperoleh peluang untuk menunjukkan
bakat ini,

tetapi kebanyakan kita tidak pernah memperoleh
kesempatan

karena imajinasi yang terbentuk dalam benak kita

bahwa seorang pengusaha adalah seseorang dengan bakat
luar biasa

yang berbeda dengan kita.

_______

Jika kita semua mulai memandang setiap manusia, bahkan
pengemis

di jalanan yang tak beralas kaki, sebagai pengusaha
potensial,

maka kita bisa membangun sebuah sistem ekonomi

yang akan memungkinkan setiap laki-laki dan perempuan

menggali potensi ekonominya.

Dinding lapuk yang memisahkan antara pengusaha

dan buruh pun akan lenyap.

Apakah seseorang ingin menjadi pengusaha atau pegawai
gajian

akan semata-mata menjadi pilihan perorangan.

______

Kalaupun pertimbangan sosial berperan sangat kecil
dalam keputusan

investasi seorang pengusaha, kita toh tetap harus
membiarkan

pertimbangan sosial itu ikut bermain demi kemaslahatan
masyarakat

secara keseluruhan.

Pertimbangan sosial seorang manusia adalah sifat-sifat
yang bisa

ditanamkan dengan membangkitkan nilai-nilai sosial
yang tepat.

Jika kita tidak menyisakan ruang bagi mereka dalam
kerangka teoretis kita,

kita akan mendorong manusia berperilaku tanpa
menghargai nilai-nilai sosial.

______

Akankah usahawan-usahawan sadar-sosial ini jarang dan
sulit ditemukan?

Saya kira tidak.

Semakin kita cari semakin banyak akan kita temui
mereka

dan semakin mudah kita bikin seseorang untuk menjadi
usahawan

sadar-sosial lainnya.

______

[ bersambung ]

* * * * *

“Orang yang paling beruntung di dunia adalah mereka
yang telah

mengembangkan rasa syukur yang hampir konstan

dalam
situasi apa pun.”

[E. Nightingale, Motivator dan Penulis terkenal]

* * * * *

by kemem dari seorang Agus Hermawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: